Setiap
wanita beriman alias muslimah itu wajib mengenakan jilbab. Bukan aku yang
bilang looh, tapi Allah sendirilah yang langsung mengatakan dalam Al-qur’an
surat An-Nur ayat 31, yang artinya :
“… Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kerudung ke dadanya,,”
Tak hanya di Surat
An-Nur Allah memerintahkan wanita untuk berjilbab, namun di Surah Al-Ahzab ayat
59 pun juga terdapat perintah untuk mengenakan Jilbab
“wahai Nabi katakanlah kepada
istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya
keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk
dikenali sehingga mereka tidak diganggu. …”
Yang namanya hidup itu selalu ada
proses. Gak bisa tiba-tiba ataupun ujuk-ujuk sempurna. Pasti selalu ada proses
didalamnya. Begitu juga dengan berjilbab. Berjilbab itu juga perlu proses. Gak
bisalah atau jaranglah yang tadinya pakai baju pendek-pendek tiba-tiba disuruh
pakai gamis dan jilbab panjang, pasti sejuta alasan dikeluarkannya. Akupun
begitu, gak langsung aku pakai jilbab yang seperti ini. Mau tahu seperti apa
perjalanan serta perjuangan ku dalam berjilbab ??? Lanjut baca yaa hehe
Aku mulai berjilbab jika keluar
rumah itu waktu masuk SMP, iyaa kelas 1 SMP. Gak langsung pakai pakaian Syar’i.
Masih senang pakai celana, yang dipadukan dengan atasan dan jilbab. Yaa gitu
aja. Bisa dibilang pakai Rok itu kalau ngaji aja. Dan My Babeh sangat jengkel
kalu ngeliat aku keluar rumah (jauh) Cuma pakai celana. Katanya gini “gak pantes nduk perempuan jilbaban pake
celana. Mbok pake Rok sana. Ganti-ganti”. Dan akupun menurut dan ganti eh
ngedobel celana dengan Rok deng. Sesampainya dirumah teman, ku ganti Rok itu
dengan celana tadi. Begitu juga sebelum back to home.
Kenapa aku lakukan itu ??? karena
aku melihat semua teman SMP ku kala itu gak ada yang pakai Rok (kecuali kalau
sekolah). Kok ikut-ikutan teman sih ? namanya juga remaja, sifatnya kan
Ragu-ragu atau bahasa gaulnya tuh labil. Belum punya prinsip yang kuat.
Kalau waktu SD lain lagi ceritanya.
Waktu sekolah aku disuruh pakai jilbab oleh My Babeh, yaa aku nurut, jilbab aku
pakai. Sebelum sampai sekolah Jilbab ku lepas dan sebelum sampai dirumah Jilbab
ku pakai lagi. Begitu terus sampai akhirnya ketahuan oleh My Babeh. Habislah
aku dimarahi dan kupakailah Jilbab itu selama sekolah.
Meskipun waktu SMP aku masih pakai
celana, tapi mulai kelas 2 SMP aku mulai pakai Kaos Kaki. Karna sudah tahu kalo
kaki aurat. Yaa namanya juga belajar, masih suka lupa, hehehe. Alhasil kalau
lupa pakai kaos kaki pas ngaji, teguran dari ustadz dan ustadzah ku dapatkan.
Saat kelas 3 smp aku sudah jarang
keluar rumah pakai celana, mulai dominan Rok lah. Begitupun awal SMA, eh akukan
SMK. Perlahan tapi pasti aku meninggalkan celana dan hijrah ke Rok dan Gamis.
Dan mulai pertengahan kelas 1 SMK sampai lulus SMK aku Selalu pakai Rok atau
Gamis. KECUALI, kalau pas Olahraga dan Praktikum. Itu wajib and mesti kudu
pakai Celana. Tuntutan profesi, hiks.
Dari
segi jilbab, mulai kelas 3 SMP, Alhamdulillah aku sudah pakai jilbab yang
menutup dada. Dan berusaha istiqomah dan
terus memperbaiki diri sampai saat ini, esok, dan nanti. Insyaallah.
Berproses itu baik. Berubah kearah
yang lebih baik itu penting. Yang tidak baik dan tidak penting ialah
menunda-nunda proses dan perubahan itu. Selalu berkata nanti dan menunggu hari
esok. Bukankah nanti itu belum pasti ? Dan bukankah esok itu misteri ? Lalu
kenapa harus menunda ?
Esok dan nanti itu tak ada bedanya
dengan Mati. Bukankah Mati juga misteri ? Mati itu Rahasia Illahi. Tak ada yang
mengetahui kecuali Allah. Bisa jadi didalam Esok dan Nanti itu akan terselip
Mati. Kematian itu tak dapat diprediksi, tak bisa dipercepat ataupun
diperlambat. Jika kematian sudah menghampiri, namun diri ini belum baik apa
yang akan dilakukan ? meminta kematian untuk menunggu ? lantas kita memperbaiki
diri ? gak bisa. Terlambat sudah !
Oleh karena itu, selagi masih ada
kesempatan. Masih mempunyai waktu. Masih diberi kesehatan. Yuuk kita berubah
kearah yang lebih baik. Yuuk kita memperbaiki diri ini. Mulai saat ini, Karena
esok dan nanti belum tentu ada.
Gak perlulah berjilbab nunggu sudah
menikah atau sudah tua. Yakin umur sampai segitu ?? bukankah mati itu misteri ?
yang tak seorangpun tahu kapan datangnya kecuali DIA. Gak perlulah berjilbab
takut dibilang sok alim, sok sholehah, sok ustadzah. Bukankah itu jadi
challenge untuk membuktikan bahwa kita bisa menjadi sholehah ??? Gak perlulah
malu berjilbab karena dibilang kaya ibu-ibu. Bukankah kita calon ibu dan akan
menjadi seorang ibu ??? Gak perlulah berjilbab harus ngikutin trend, style and
tutorial yang lagi ngehits. Bukankah tutorial berjilbab sudah amat jelas
tertera di QS An-Nur 31 dan Al-Ahzab 59 ???
Point dalam berjilbab itu bukan harus
Trendy, tapi harus Syar’i. Pakailah jilbab yang tebal, tidak ketat, tidak
tembus pandang, menutup dada and No Tabarruj. Itu tutorialnya. Gak usahlah
jilbab dililit-lilitin kekepala dan keleher, gak takut kecekek ?? Ga usahlah
jilbab dikepang-kepang, dipakein bando, ini jilbab sist, bukan rambut.
Sederhanakan
Jilbab supaya Syar’I
Aku nulis ini bukan berarti aku sudah
baik. Justru aku ingin memperbaiki diri bareng kamu. Iya kamu
Mulai sekarang kita berjilbab yuk ?
mulai perbaiki jilbab, ikuti syariat.
Berjilbab tanpa
tapi, Taat tanpa nanti.
Oke Ukhti ???
Dy_


