Minggu, 30 November 2014

Jilbab, Hijab, Khimar, Kerudung, apapun namanya.


                 Setiap wanita beriman alias muslimah itu wajib mengenakan jilbab. Bukan aku yang bilang looh, tapi Allah sendirilah yang langsung mengatakan dalam Al-qur’an surat An-Nur ayat 31, yang artinya :

“… Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,,”

Tak hanya di Surat An-Nur Allah memerintahkan wanita untuk berjilbab, namun di Surah Al-Ahzab ayat 59 pun juga terdapat perintah untuk mengenakan Jilbab

“wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. …”

            Yang namanya hidup itu selalu ada proses. Gak bisa tiba-tiba ataupun ujuk-ujuk sempurna. Pasti selalu ada proses didalamnya. Begitu juga dengan berjilbab. Berjilbab itu juga perlu proses. Gak bisalah atau jaranglah yang tadinya pakai baju pendek-pendek tiba-tiba disuruh pakai gamis dan jilbab panjang, pasti sejuta alasan dikeluarkannya. Akupun begitu, gak langsung aku pakai jilbab yang seperti ini. Mau tahu seperti apa perjalanan serta perjuangan ku dalam berjilbab ??? Lanjut baca yaa hehe

            Aku mulai berjilbab jika keluar rumah itu waktu masuk SMP, iyaa kelas 1 SMP. Gak langsung pakai pakaian Syar’i. Masih senang pakai celana, yang dipadukan dengan atasan dan jilbab. Yaa gitu aja. Bisa dibilang pakai Rok itu kalau ngaji aja. Dan My Babeh sangat jengkel kalu ngeliat aku keluar rumah (jauh) Cuma pakai celana. Katanya gini “gak pantes nduk perempuan jilbaban pake celana. Mbok pake Rok sana. Ganti-ganti”. Dan akupun menurut dan ganti eh ngedobel celana dengan Rok deng. Sesampainya dirumah teman, ku ganti Rok itu dengan celana tadi. Begitu juga sebelum back to home.

            Kenapa aku lakukan itu ??? karena aku melihat semua teman SMP ku kala itu gak ada yang pakai Rok (kecuali kalau sekolah). Kok ikut-ikutan teman sih ? namanya juga remaja, sifatnya kan Ragu-ragu atau bahasa gaulnya tuh labil. Belum punya prinsip yang kuat.

            Kalau waktu SD lain lagi ceritanya. Waktu sekolah aku disuruh pakai jilbab oleh My Babeh, yaa aku nurut, jilbab aku pakai. Sebelum sampai sekolah Jilbab ku lepas dan sebelum sampai dirumah Jilbab ku pakai lagi. Begitu terus sampai akhirnya ketahuan oleh My Babeh. Habislah aku dimarahi dan kupakailah Jilbab itu selama sekolah.

            Meskipun waktu SMP aku masih pakai celana, tapi mulai kelas 2 SMP aku mulai pakai Kaos Kaki. Karna sudah tahu kalo kaki aurat. Yaa namanya juga belajar, masih suka lupa, hehehe. Alhasil kalau lupa pakai kaos kaki pas ngaji, teguran dari ustadz dan ustadzah ku dapatkan.

            Saat kelas 3 smp aku sudah jarang keluar rumah pakai celana, mulai dominan Rok lah. Begitupun awal SMA, eh akukan SMK. Perlahan tapi pasti aku meninggalkan celana dan hijrah ke Rok dan Gamis. Dan mulai pertengahan kelas 1 SMK sampai lulus SMK aku Selalu pakai Rok atau Gamis. KECUALI, kalau pas Olahraga dan Praktikum. Itu wajib and mesti kudu pakai Celana. Tuntutan profesi, hiks.

Dari segi jilbab, mulai kelas 3 SMP, Alhamdulillah aku sudah pakai jilbab yang menutup dada.  Dan berusaha istiqomah dan terus memperbaiki diri sampai saat ini, esok, dan nanti. Insyaallah.

            Berproses itu baik. Berubah kearah yang lebih baik itu penting. Yang tidak baik dan tidak penting ialah menunda-nunda proses dan perubahan itu. Selalu berkata nanti dan menunggu hari esok. Bukankah nanti itu belum pasti ? Dan bukankah esok itu misteri ? Lalu kenapa harus menunda ?

            Esok dan nanti itu tak ada bedanya dengan Mati. Bukankah Mati juga misteri ? Mati itu Rahasia Illahi. Tak ada yang mengetahui kecuali Allah. Bisa jadi didalam Esok dan Nanti itu akan terselip Mati. Kematian itu tak dapat diprediksi, tak bisa dipercepat ataupun diperlambat. Jika kematian sudah menghampiri, namun diri ini belum baik apa yang akan dilakukan ? meminta kematian untuk menunggu ? lantas kita memperbaiki diri ? gak bisa. Terlambat sudah !

            Oleh karena itu, selagi masih ada kesempatan. Masih mempunyai waktu. Masih diberi kesehatan. Yuuk kita berubah kearah yang lebih baik. Yuuk kita memperbaiki diri ini. Mulai saat ini, Karena esok dan nanti belum tentu ada.

            Gak perlulah berjilbab nunggu sudah menikah atau sudah tua. Yakin umur sampai segitu ?? bukankah mati itu misteri ? yang tak seorangpun tahu kapan datangnya kecuali DIA. Gak perlulah berjilbab takut dibilang sok alim, sok sholehah, sok ustadzah. Bukankah itu jadi challenge untuk membuktikan bahwa kita bisa menjadi sholehah ??? Gak perlulah malu berjilbab karena dibilang kaya ibu-ibu. Bukankah kita calon ibu dan akan menjadi seorang ibu ??? Gak perlulah berjilbab harus ngikutin trend, style and tutorial yang lagi ngehits. Bukankah tutorial berjilbab sudah amat jelas tertera di QS An-Nur 31 dan Al-Ahzab 59 ???

            Point dalam berjilbab itu bukan harus Trendy, tapi harus Syar’i. Pakailah jilbab yang tebal, tidak ketat, tidak tembus pandang, menutup dada and No Tabarruj. Itu tutorialnya. Gak usahlah jilbab dililit-lilitin kekepala dan keleher, gak takut kecekek ?? Ga usahlah jilbab dikepang-kepang, dipakein bando, ini jilbab sist, bukan rambut.
Sederhanakan Jilbab supaya Syar’I




            Aku nulis ini bukan berarti aku sudah baik. Justru aku ingin memperbaiki diri bareng kamu. Iya kamu

            Mulai sekarang kita berjilbab yuk ? mulai perbaiki jilbab, ikuti syariat.

Berjilbab tanpa tapi, Taat tanpa nanti.
Oke Ukhti ???


Dy_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar