Sendiri
tapi Happy
Banyak orang yang bilang kalau
sedang sendiri itu rasanya sepi. Tapi hal itu tak berlaku buat ku. Kalau
sendiri aku malah merasa happy. “looh kok bisa ???”. Mau tau kenapa ?? Lanjut baca yaa…
Sendiri disini bukan berarti setiap saat
aku selalu sendiri. Ngapa-ngapain sendiri. Bukan begitu, kan aku juga makhluk
sosial, yang gak bisa hidup tanpa bantuan kamu, eh bantuan orang lain
maksudnya. Hehehe.
Sendiri disini artinya aku punya
waktu dimana aku harus sendiri alias Me
Time. Pergi sendiri, jalan-jalan sendiri, ngebolang sendiri, merenung
sendiri, diem sendiri. Naah begitulah “Me
time” ala dyah.
Aku suka menyendiri di kamar ku yang
biasa aja, di saat keluarga ku sedang bercengkrama. Eiiittss bukan berarti aku
tak cinta keluarga lhoo. Juga ada saatnya dimana aku turut bercengkrama dengan
mereka.
Di dalam kesendirian ku inilah
terlahir coretan-coretan ku. Tercipta tulisan-tulisan ku. Dan terlahir
puisi-puisi ku. Hehehe
Itu sendiri ku yang pertama.
Sendiriku yang kedua ialah…
Aku sangat suka jalan-jalan sendiri,
ngebolang sendiri, hang out sendiri, ngebolang sendiri. Tapi, itu masih di
wilayah Jakarta dan bekasi. Tidak lebih dari itu. Padahal aku ingin menjelajah
lebih jauh.
Untuk jalan sendiri aku biasanya
pergi ke mall yang gak terlalu jauh dari rumah. Entah udah berapa kali tuh aku
ngiterin itu mall. Gak sempet ngitungin juga kalo ngitungin gak bakal keitung.
Dan di mall itu yang aku tuju hanya toko bukunya. Wajib deh ke toko buku. Entah
cuma ngeliatin aja alias window shoping
atau beli beberapa buku, pokoknya wajib ke toko buku. Emm, seringnya kalo aku
ke toko buku tuh minimal ada satu buku yang ke beli. Di mall tersebut Cuma ada
3 toko buku, yaitu Gramedia, Gunung Agung, dan Kharisma. Dan 3 toko buku itu
aku kunjungi. Yaa meski gak di ketiga toko buku itu aku selalu beli buku.
Intinya kalau aku ke mall itu yang aku cari ya toko buku.
Banyak teman-teman ku yang bingung,
apa sih enaknya ke mall sendirian ?? kan bête ? gak ada temen ngobrol ?
Enaknya ituh aku bisa bebas ngiterin
mall, mau kesana kesini kesitu bebas, bisa puas berlama-lama atau sebentar di
toko buku, gak ada yang crewet ngajakin buru-buru pulang, atau gak ada yang
bawel ngajakin kesana kemari. Kalau sendiri itu free.
Eeeiiitss,, bukan berarti aku gak
suka hang out bareng temen-temen yaaa. Ada masanya aku jalan bareng
temen-temen. Yaa shooping, yaa windows shoping, yaa ngiterin mall, yaa
makan-makan, yaa yaa dan yaa. Hehehe
Selain ke mall, aku juga suka
ngebolang ke Jakarta. Itu keluar kota looh, kan aku tinggalnya di Bekasi.
Hehehe
Keliling Jakarta naik transportasi
masal yang disediakan pemkot DKI, yakni Transjakarta alias Busway. Aku hampir
hafal halte-halte yang ada juga rutenya. Hehe. Banyak juga temen-temen ku yang
Tanya, apa asyiknya ngebolang sendirian ??
Asyiknya yaa aku bisa bebas kemana
aja, mau berapa lama, mau ngapain aja. Eiits tapi ingat, aku bebasnya
bertanggung jawab loh. Tetap ingat waktu dan nasehat ortu.
Banyak orang yang gak suka naik
Busway. Yang akhwat udah jelas pasti takut ikhtilat. Don’t worry ukhty,,
sekarang busway udah jelas dipisah tempat antara laki-laki dan perempuan.
Petugasnya sudah tegas. Juga harus pintar-pintarnya diri sendiri untuk mencari
tempat yang aman dari laki-laki non mahram. Yang lain gak suka karena di busway
itu desak-desakan, panas, ngantri panjang, nunggu lama. Tapi itu ada ibrahnya
looh.
Dari naik busway aku belajar arti
berbagi juga ikhlas memberi. Aku berbagi tempat duduk dengan penumpang yang berprioritas untuk dapat tempat duduk.
Yakni, para lansia, ibu hamil, ibu yang membawa anak kecil, dan penyandang
cacat. Berbagi dengan mereka dengan balasan senyum dan terimakasih dari mereka
sungguh sangat bermakna. Tapi ada yang membuatku sangat jengkel. Yaitu, saat
melihat orang yang seharusnya mampu berdiri
pura-pura tidur atau tidak melihat orang yang diprioritaskan untuk duduk. Tolong ya sob, kalau kita masih sunggup
untuk berdiri, tolong berbagi tempat duduk dengan mereka. Ok !!!
Dari naik busway aku juga belajar
arti kesabaran. Sabar menanti datangnya busway yang tak pasti. Sabar menunggu
datangnya busway yang kadang amat sangat teramat lama. Dibeberapa halte busway
datang cukup lama bahkan sangat lama. Contohnya, di halte Kota, busway jurusan
Tanjung Priok – Pluit cukup lama. Pernah suatu ketika aku menunggu hingga satu
setengah jam lamanya. Padahal jika itu digunakan untuk naik busway jurusan Blok
M – Kota (yang lebih sering melintas) mungkin aku sudah sampai halte GBK,
bahkan lebih. Juga di halte Semanggi, aku harus menunggu lebih dari setengah jam
sampai datangnya busway jurusan Pinang Ranti – Pluit. Padahal jika itu
digunakan untuk naik busway jurusan PGC – Tanjung Priok (yang lebih sering
lewat) mungkin aku sudah lebih dari halte UKI.
Yaaaa,,, disitulah kesabaran kita
diuji. Tak jarang kesabaran juga diuji jika jalur busway yang sudah terpisah
ikut-ikutan macet karena pengguna jalan yang menerobos jalur busway. Untuk para
pengguna jalan, please, jangan mengambil jalur busway ya. Kalau pengen lewat
jalur busway ya harus naik busway. Gampang kan.
Dari busway juga aku belajar artinya
bersyukur. Karena saat naik busway aku melihat kehidupan Jakarta. Jakarta itu
megah, tapi tak semuanya megah. Masih ada Jakarta yang jauh dari kata megah.
Misalnya, pemukiman pinggiran Jakarta, jauh dari kata megah kan ? beda jauh
dengan apartemen yang bederet didaerah kelapa gading. Juga anak-anak yang
berlarian menghampiri pengguna jalan saat lampu merah menyala. Itu pemandangan
khas cempaka putih dan tamini square. Yaaa.. aku jauh lebih mensyukuri hidup
ku.
Aaah ternyata dimanapun kita berada,
banyak pelajaran yang bisa diambil yaaa…
Oiiyaa,, ada juga teman ku yang
bertanya, “emang orangtua mu gak melarang kamu pergi sendiri ? gak khawatir
gitu ?”. Jelas pernah melarang dan sudah pasti khawatir. Tapi aku meyakinkan
orangtua ku bahwa aku bisa dan aku mampu. Dan sampai akhirnya orangtua ku yakin
dan percaya. Mereka memberikan kepercayaan yang begitu besar padaku, dan aku
tak mau merusak kepercayaan itu. Aku menjaga amanah mereka dan bertanggung
jawab. Sebelum pergi selalu ada hitam diatas putih antara kami. Yakni ada
perjanjian jam berapa aku harus tiba dirumah. Dan aku tak boelh melanggar itu.
Dan jika melanggar, akan terjadi perang dunia. (lebay yak ? hehehe). Mereka
pasti khawatir, tapi mereka menitipkan aku padaNya. kepadaNya yang tak pernah
luput mengawasiku dan tak pernah lelah menjagaku.
“tapikan perempuan gak boleh pergi
tanpa mahram ?” eem,, bukannya boleh yaa asal orangtua (jika belum menikah) dan
suami (jika sudah menikah) mengizinkan. Eemm,, tapi saya juga kurang tahu deh.
Nanti saya Tanya ustadz atau ustadzah dulu.
Aaah jangan cemaskan kesendirian ku,
jangan khawatir. (looh emang sapa yang cemas nan khawatir ??)
Akan ada saatnya kesendirian ku ini
berakhir. Akan tiba masanya aku tak pernah sendiri. Yaitu ketika kamu menemani
perjalanan hidupku. Iya kamu.
Akan ada saatnya aku gak pernah
jalan sendirian ke toko buku, karena ada kamu yang akan menemani ku untuk
keliling toko buku. Bukan hanya toko buku dekat rumah ku, mungkin keliling toko
buku yang ada di Jakarta bahkan di Indonesia.
Akan tiba waktunya aku tidak akan
naik busway seorang diri. Karena aka nada kamu yang senantiasa menemani.
Menemaniku menyusuri ibu kota, bahkan menemaniku menyusuri Indonesia atau
menemaniku keliling Dunia. Tidak sendiri. Tapi bersamamu.
Kesendirian ini akan berhenti. Saat
kesendirian ini belum berhenti, aku sangat menikmati. Tapi aku yakin akan lebih
menikmati jika kesendirian ini berhenti karena kau yang menemani.
Sendiri tanpa tapi, yang penting
sendiri tapi Happy.
Dy_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar