Aku senang bisa
mengenalmu. Berteman denganmu. Aku merasa berbeda setelah mengenalmu. Kau
mengajariku banyak hal. Memberikan hal-hal yang baru yang awalnya tak ku
ketahui. kau seperti guru bagiku. Kadang kau seperti kakak untukku. Ada kalanya
kau bagaikan teman untukku. Namun disisi lain ada bayangan bahwa kau seperti
…….. aaah abaikan saja. Ini hanya ilusi.
Namun, ada hal
yang sangat aku takutkan. Aku takut salah mengartikan semua kebaikan dan
perhatian yang kau berikan padaku. Jujur, aku takut sekali akan hal itu. Aku
takut sekali bila akhirnya aku terbelenggu oleh ilusi yang ku ciptakan sendiri.
Aku takut sekali jika aku tak dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang
fatamorgana. Aku takut apabila tahu kalau ini hanya bualan perasaan ku sendiri.
Dan sebelum semua
itu terjadi, aku memutuskan untuk mundur perlahan, namun menjauh pasti. Aku
membentangkan jarak. Jarak yang seharusnya sulit untuk kau tempuh. Aku tak
ingin berharap padamu dan juga aku tak ingin seolah memberikan harapan padamu.
Aku ingin bersikap biasa saja. Namun aku seolah tak kuasa.
Aku mencoba pergi
darimu, tapi kenapa kau mencariku ? Aku berusaha menjauh darimu, tapi kenapa
kau mendekatiku ? Sekuat tenaga aku berlari untuk menjauhi dirimu, tapi kenapa
kau tetap mengejarku ? Ku coba untuk sembunyi darimu, tapi kenapa pula kau
berhasil menemukanku ???
Aku mohon,
menjauhlah dariku. Karena aku tak ingin mengotori hati ini. Ku mohon, jangan
muncul dihadapanku. Aku tak ingin merusak hati ku. Ku harap kau memahami maksud
ku ini.
Aku menjauhi
dirimu karena aku takut, jika suatu saat aku tahu kau berbeda rasa denganku.
Aku menghindarimu Karena aku takut jika nanti tanganku tak bisa bertepuk dengan
tanganmu. Lebih baik aku terluka sekarang, daripada terluka nanti. Mau nanti
atau sekarangpun tak ada bedanya, sama-sama akan terluka.
Namun, jika
ternyata namamu lah yang tercatat di Lauh Mahfudz sebagai teman hidupku, maka
dengan izinNya kau akan mendekatiku, akan akan kembali padaku, kau akan
meminangku, kau akan menikahiku, dan kau akan bahagia bersama ku.
Tapi kini, aku
memilih pergi. Pergi untuk menata hati dan memperbaiki diri. Pergi untuk
membersihkan dan mempercantik hati. Pergi untuk kembali.
dy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar